Rabu, 10 Mei 2017

Thank's Facebook Anyway



Siang tadi saya membuka salah satu sosial media kepunyaan saya yg sudah cukup lama tak dibuka; Facebook. Begitu masuk ke timeline, langsung muncul fungsi lain dari sosial media tersebut. Ya, membangkitkan kembali kenangan yang pernah kita alami. Entah kita sendiri atau orang lain yang mengunggahnya. Yang pasti kenangan tersebut berkaitan dengan kita.
 
Ndilalahnya adalah, kok hari ini tu lho yang muncul adalah kenangan empat tahun yang lalu saat saya, salah seorang sahabat, dan (ehemm) mantan kekasih yang pernah empat tahun bersama saya merasakan manis, asin, asam, pahit, getir, dan embuhnya hubungan jarak jauh (Eeeaaakkkk) sedang menghabiskan waktu bersama.

Melihatnya, saya hanya senyum. Sangat manis. Semanis es krim yang sering kita beli dulu. Ahhoooii. Oke, mari kembali agak serius. Sembari senyum sangat manis tadi saya mikir, “Kira-kira respon orang lain saat melihat kenangan manis yang demikian, seperti apa ya? Sebal kah? Bahagia kah? Benci kah? Atau apa?”. Saya juga mikir, “apakah setiap orang yang memiliki kenangan baik atau buruk, dan sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk mengulangi—entah karena alasan apa, kini bisa berdamai dan berbahagia dengan caranya sendiri? Bila tidak, sampai kapan mereka mau terkungkung dengan kenangan yang pernah dilalui?”

Ah, yasudah lah. Yang penting saya sekarang sudah ehemm. Hahahhaa. Thank’s Facebook anyway. Oh ya, kamu apakabar? Jadi sama mbak yang cantik itu atau masih suka teringat kalau nganterin aku ke stasiun? *kemudian hening*

Kamis, 26 Mei 2016

Pulanglah Menuju "Rumah"



dari dalam KA Malioboro Ekspress saat berhenti di Stasiun Kepanjen
Senyummu sampah,
Matamu bilang, kau begitu resah,
Apa karena rindumu yang makin membuncah?
Atau karena hatimu yang terlalu lelah untuk berkali-kali patah?
Tak usah kau pongah,
Pulanglah!
Rumah tanpa pintu-mu selalu siap menerima segala yang kau curah,
Biarkan semua yang sesak di pelupuk mata meluruh saat kau sambut pelukan hangat dari mamah,
Atau ketika kedua tanganmu menengadah. 

Malang,  26 Nov 2015 20.13 WIB

*Sedikit bercerita. Dulu, 4 hari setelah menulis curhatan ini, saya akhirnya bisa pulang. Dengan perasaan tak karuan. Pakdhe yang sangat menyayangi dan membanggakan saya berpulang kepada-Nya. Saat akan mengunggah tulisan ini, perasaan saya juga tak karuan. Pak, Buk, anak perempuannya pengen pulang. Kepalanya pengen diusap dengan jemari kalian berdua, juga wajahnya pengen diciumi oleh bibir kalian. Mungkin, bila di rumah, saat ini kepala saya sudah bersandar manja di pundak adik tertua. Juga pasti punggung saya sudah diusap-usap oleh adik ragil kesayangan. semoga, dua hari lagi mendapat keajaiban untuk bisa pulang.

Sabtu, 21 Februari 2015

Tentang Puh Sarang dan Pelajaran Toleransi dalam Beragama



Saat sedang mengetik bahan postingan ini, saya sembari berpikir mengapa saya yang notabene seorang perempuan bisa memiliki hasrat yang tinggi untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain (tidak untuk masalah hati, eeaaakk). Entah untuk waktu yang agak lama ataupun hanya sekedar untuk melihat kebudayaan, pemandangan baru, serta cara hidup masyarakat di daerah tersebut yang pastinya berbeda dengan yang saya miliki. Bisa jadi hal ini dilatar belakangi oleh masa kecil saya banyak dimomong oleh Mbah Mangun yang sangat protektif terhadap cucu perempuannya yang masa kecilnya mirip anak bule (ini suwerrr, tp entah mengapa makin besar makin nggilani). Sehingga saat saya mulai tahu kehidupan di luar rumah, makin naik pulalah keingintahuan terhadapnya.
Lalu saat bersekolah, saya tidak pernah memiliki satupun teman sekelas yang memeluk kepercayaan berbeda dengan yang saya miliki. Sehingga keingin tahuan saya tidak berbalas sama sekali. Akhirnya, salah satu teman tidur di ma’had dahulu; Ifa mengajak saya mudik ke Kediri pada akhir Februari 2015. Dari Malang, kami memutuskan untuk mampir ke salah satu Gereja terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah Ifa di daerah Ngadiluwih. Puh Sarang, Goa Maria Puh Sarang. Begitulah tempat ibadah ini sering disebut oleh masyarakat sekitar.
di depan gereja. unik kan? atau saya yang baru sekali masuk gereja saja ya? hehe
Sesampainya di kawasan Gereja tersebut, dengan membayar retribusi sebesar Rp 1.500,- dan parkir Rp 2.000,- kami disambut oleh suasana yang sangat tenang ditambah dengan kicauan burung liar. Menambah syahdunya suasana (awas Baper). Banyak pepohonan rimbun yang terdapat di kawasan Gereja Puh Sarang. Model bangunan yang digunakan juga sangat unik dengan atap melengkung-lengkung dan dinding yang terbuat dari batuan kali utuh lalu diusun satu persatu dengan semen sebagai pelekatnya sehingga menjadi dinding unik. Penggunaan bahan ini juga yang sepertinya menambah kesejukan bangunan tersebut. Atap unik yang bentuknya bisa melengkung-lengkung ini disebabkan oleh rangka atap yang biasanya menggunakan kayu diganti dengan bambu sehingga lebih fleksibel untuk dibentuk sesuai konsep yang diambil. Oh iya, memasuki Puh Sarang membuat saya merasa seperti terbawa ke daerah lain di Indonesia. Semacam Manado, mungkin (atau bisa jadi ini hanyalah hasil imaji yang terlalu liar). 
atap yang di atas itu melengkung-lengkung. tp maap gambar tidak detail hehee
Memasuki kawasan Gereja ini lebih dalam, kita akan menjumpai pasar di kiri kanan jalan yang menjajakan berbagai macam kebutuhan beribadah dan juga berbagai jenis buah tangan. Di ujung pasar, merupakan Goa Maria yang menjadi tempat utama untuk berdoa bagi para jemaat. Di area ini, ketenangan makin terasa sehingga sangat kondusif untuk melakukan ibadah.
ada pohon beringinnya juga. Jelas sejuk dan rindang!
salah satu cerita perjalanan salib Yesus Kristus. saya lupa ini pas bagian apa, yang pasti ada banyak statue di jalan salib ini.
Di sekitar Goa terdapat sebuah jalan yang di sepanjang jalannya merupakan statue yang bercerita mengenai perjalanan Salib Yesus Kristus. I love being on this place. Mulai dari suasana yang sangat kondusif untuk beribadah plus menyatu dengan alam, hingga para jemaat yang sedang beribadah sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran kami yang jelas terlihat memiliki kepercayaan yang berbeda dengan mereka. Atau dengan kata lain, toleransi yang mereka miliki sangatlah tinggi. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan saudara-saudara kami yang memiliki kepercayaan sama dengan saya yang tak jarang suka serta merta menghujat dan meyakini bahwa dirinya yang paling benar tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan saling menghargai. Terimakasih Puh Sarang untuk pelajaran berharganya. Next, ada yang mau menemani saya berkunjung ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran?   
  

Selasa, 30 Desember 2014

Kulonprogo Tak Melulu Soal Air Terjun dan Pantai Glagah



Jalan-jalan terakhir di 2014. Menanggapi ajakan seorang sahabat yang ingin mengajak pacar barunya  jalan-jalan di Jogja. So we decided Waduk Sermo and Wisata Alam Kalibiru as our  destination.
Pagi itu kami berangkat agak siang (hallaah). Kami berangkat melewati jalur selatan. Dari Bantul, kami berangkat menuju Perempatan Palbapang terus ke barat melewati Jembatan Progo yang eksotis itu. Sampai di pertigaan lampu merah, kami berhenti (ya iyalah). Ketika lampu tiba-tiba berubah menjadi hijau, perjalanan ke barat kami lanjutkan kembali hingga sampai ke lampu merah selanjutnya. Perempatan ini dinamakan perempatan Nagung. Nah, di perempatan ini kami belok kanan (utara) dan nurut dalan terus sampai ketemu lampu merah patung Kuda yang ada di Wates. Mulai dari sini saya sudah bingung arah tapi kalau kesana sendiri ya tau jalannya hahaha aneh. Pokoknya kita ambil arah menuju kota, melewati kios-kios gitu deh. Dan jalan searah. Kalau bingung pakai GPS aja, mbak-mbak mas-mas. Global Positioning System atau Gunakan Penduduk Sekitar sama manfaatnya kok :D
 
ini, pemandangan di pinggir Waduk Sermo. Apik yo?


Jalannya sepi, bisa buat lari-lari dari kenangan. Anginnya semilir mrinding-mrinding asoy

itu lhoo, pohon hits di Kalibiru. Jebul wit e mung cilik -__-

sebenarnya, dibawahku itu antriane MasyaAllah

Jalannya dari parkir menuju TKP di Kalibiru. Mayan bikin ngos-ngosan

Alas Gumuling. Cocok buat Prewedding kan?

itu warna ijonya aseli. daun yang berguguran juga.
Oke, sesampainya di Waduk Sermo, matahari sudah tinggi. Dan kami putuskan untuk langsung ke Kalibiru saja. Sesampainya di Kalibiru, kami dapat tettoooottt lagi. Ruamai bukan kepalang. Mau foto di pohon hits yang ada di Kalibiru pun harus antri 50 orang lebih. Ternyata Kalibiru tempatnya tak seluas yang kami kira (kala itu, entah saat ini). Dan akhirnya kami putuskan untuk foto-foto di tempat seadanya (bocor sana-sini pastinya), numpang sholat Dzuhur, lalu balik lagi ke Waduk Sermo.
Di Waduk Sermo, kita mampir foto-foto saja sih hahaha. Perjalanan kami lanjutkan ke Alas Gumuling untuk numpang neduh. Hutannya kayak di Negeri dongeng lho!
Masalah ongkos, ajak deh gebetan atau pacar atau selingkuhan agar hemat uang bensin. Sebenarnya, untuk HTM, biaya makan dll ga nguras kantong kok. Jangan lupa, jaga kebersihan. Kantongin dulu sampah yang kamu hasilkan kalau ga nemu tempat sampah hehee (tapi ini serius). Selamat menikmati Karya Tuhan!